Tampilkan postingan dengan label BAHASA ARAB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHASA ARAB. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juni 2009

BAHASA ARAB untuk Anak-anak


ANAK-ANAK JUGA HARUS PINTAR BAHASA ARAB

Segala Puji bagi Allah ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa arab. Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Al-Qur’an adalah mukjizat paling agung yang menunjukkan akan benarnya risalah yang dibawa Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bahkan kalangan jin pun sampai kagum dengan keindahan bahasa Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman dalam surat al-Jinn,

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا . يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami.”. (Al-Jin [72]: 1-2)

Tak seorang pun yang mampu mendatangkan satu ayat pun yang semisal Al-Qur’an, Allah ta’ala berfirman,

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.” (QS. Al-Israa [17]: 88)

Allah ta’ala telah menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa arab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wahyu, membimbing para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in dengan bahasa arab, begitupula generasi terbaik umat ini, mereka juga saling berkomunikasi dengan bahasa arab. Maka tidak mungkin bagi kita untuk bisa memahami dengan baik dua wahyu Allah (Al Qur’an dan As Sunnah), sesuai dengan pemahaman yang benar dari para sahabat dan ulama-ulama yang berpegang teguh dengan tuntunan mereka kecuali dengan mempelajari bahasa arab.

Mempelajari bahasa arab adalah perkara yang amat penting. Sungguh sangat menyedihkan bahwa kebanyakan kaum muslimin berpaling dari mempelajari bahasa arab. Kebanyakan kaum muslimin sekarang lebih berbangga apabila bisa berbicara dengan bahasa asing, dengan bahasa inggris, jerman dan seterusnya, bahkan putra-putri mereka pun dididik dengan bahasa asing supaya tidak ketinggalan zaman, dan yang paling menyedihkannya adalah mereka sama sekali tidak berupaya agar putra-putri mereka mempelajari bahasa arab. Laa haula walaa quwwata illa billah

Kalau keadaan kaum muslimin seperti ini, bagaimana akan tercetak generasi Islam yang cinta Allah dan Rasul-Nya? Bisa dibayangkan bila ini berlangsung terus akan menyebabkan mereka terombang ambing dalam gelombang syubhat dan syahwat. Bagaimana mungkin mereka akan mampu membela Islam dengan benar kalau aqidahnya rapuh, kalau mereka sendiri tidak di didik diatas tuntunan islam, di atas tuntunan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Untuk para orang tua:

  • Perhatikanlah pendidikan anak-anakmu. Janganlah kau terlantarkan pendidikan mereka, pendidikan yang paling penting bagi mereka adalah pengajaran aqidah yang benar, tanamkan aqidah tersebut pada benak mereka.
  • Ajarkan mereka Al-Qur’an sejak dini. Bangkitkan kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an.
  • Ajarkanlah mereka hadits-hadits dari Rasulullah, biasakan mereka untuk mendengar hadits-hadits tersebut.
  • Perkenalkan putra-putri anda bahasa arab. Karena itu merupakan bahasa Al-Qur’an. Ajarkan sejak dini, sejak anak bisa berbicara maka latihlah dia untuk belajar bahasa arab.
  • Karena mengajar anak di waktu kecil bagaikan mengukir diatas batu. Sedikit demi sedikit. Ketika anak sudah paham nama-nama benda, ajarkan bahasa arabnya.

Misalnya ketika anak melihat ke langit maka kita ajarkan bahwa langit bahasa arabnya adalah “samaa’un”, kalau anak melihat buku maka kita ajarkan bahwa bahasa arabnya buku adalah “kitaabun”, kalau anak sedang memperhatikan tangannya, kita ajarkan bahwa bahasa arab tangan adalah “yadun” dan seterusnya. Dengan diperkenalkan dan melihat langsung wujud aslinya akan sangat membantu anak cepat hafal yang diajarkan.

Maka, marilah kita perkenalkan bahasa Arab sejak dini kepada anak-anak kita. Semoga kelak mereka menjadi anak yang bertakwa, cinta Al-Quran, cinta al-Hadits, menjadi salah satu penegak panji islam dan menjadi penduduk surga-Nya Allah ta’ala kelak, aamiin.

(Kholis)

URGENSI BAHASA ARAB


Makanya, Antum Belajar Bahasa Arab yang Serius tuh...!!!

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua yang dikenal oleh manusia dan satu-satunya bahasa yang paling berkembang dan cepat penyebarannya. Sekalipun tata bahasanya demikian lengkap namun sangat mudah dipelajari. Karakter unik yang khusus yang dimilikinya menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa pilihan bagi Kitab Suci yang paling mulia. Berikut kami untaikan sedikit tentang urgensi bahasa Arab dengan format tanya jawab.

Bagaimana kedudukan bahasa Arab di mata Islam, dan apakah berbicara dengan bahasa pengantar ini termasuk ashabiyah (fanatisme golongan), atau apakah bahasa Arab memiliki kedudukan yang mulia dibandingkan bahasa lain?

Bahasa adalah wasilah untuk berkomunikasi, hanya itu. Demikian pula bahasa Arab, hanyalah sebuah wasilah untuk komunikasi sosial tetapi ada satu keistimewaan tambahan yang tidak dimiliki oleh bahasa lain, yaitu nilai ibadah.

Maka berkomunikasi dengan bahasa Arab ibadah, demikian juga mempelajarinya, mengajarkannya, menelaah kitab-kitab arabiyah adalah ibadah. Sebab bertaammul (berinteraksi) dengan bahasa ini dianggap telah menghidupkan dan menjaga fondasi terpenting Islam yaitu Al-Qur’an.

Mungkin adakah sebuah penjelasan yang lebih terperinci mengapa Allah memilih bahasa Arab untuk Kitab Suci-Nya paling mulia?

Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rasulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Ramadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat Yusuf).

Urgensi bahasa Arab, dan kepentingan teragung dalam dalam kehidupan kita, bahwa ia adalah bahasa Al-Qur’an, bahasa pengantar Islam. Dengannya berkembanglah Islam ke seantero jagat sebagai rahmatan lilalamin.

Dalam sebuah kaidah fiqih dikatakan: “Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib.”

Maka tatkala hukum membaca Al-Qur’an wajib, menelaah Al-Hadits hukumnya wajib, mengetahui kaidah-kaidah ibadah dan aqidah hukumnya wajib dan tidak ada cara lain untuk memahami semua ini dengan apik kecuali dengan memahami terlebih dahulu bahasa Arab, akhirnya mempelajari bahasa Arab naik hukumnya menjadi wajib.

Berangkat dari sini, bahasa Arab menjadi bahasa yang paling berkesan dalam dada kaum muslimin dan menghunjam dalam iman serta ruh mereka. Bahasa Arab tidak mungkin dipisahkan dalam tarikh kegemilangan umat Islam yang akan dan terus dikenang dan diusahakan perwujudannya kembali.

Jadi hukum mempelajari bahasa Arab wajib, apakah ada ijtihad dari ulama terpercaya mengenai kesimpulan antum ini?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim berfatwa: “Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah:Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib.”

Beliau juga berkata: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.”

Jauh sebelum masa Ibnu Taimiyah, Imam Syafi’ipun memiliki istimbath (kesimpulan hukum) demikian.

Dengan kata lain Bahasa Arab merupakan pokok agama atau dikatakan; “Dienul Islam tidak akan terwujud kecuali dengan bahasa Arab”.?

Benar sekali. Ana tekankan bahwa bahasa Arab tidak hanya penting untuk berkomunikasi saja, lebih dari itu bahasa Arab ruhnya segala syiar.

Lalu apa perbedaan dengan bahasa lainnya?

Kita bisa katakan, bahasa Arab tidak akan musnah selama Dien ini tidak musnah… Bahasa ini akan tetap ada selama masih ada orang yang mengucapkan La illaha illallah.

Artinya, janji Allah ta’ala akan terjaganya Kitab-Nya juga mencakup janji terjaganya bahasa Arab?

Tepat, sebab bahasa Arab bahasa pengantar Al-Qur’an yang tersusun kalimatnya oleh susunan, kaidah-kaidah dan hukum-hukum tata bahasa Arab.

Ana telah sekian lama mempelajari bahasa Arab, tapi sampai sekarang tetap kesulitan membaca kitab, ada solusi?

Pertama perhatikan keikhlasannya, belajar hanya untuk mencari ridha-Nya saja. Kedua perhatikan istiqamahnya, dan ketiga perhatikan metode sistematika mempelajarinya setelah itu tawakal kepada Allah.

Sumber: http://alghaits.wordpress.com

Minggu, 28 Juni 2009

bAHASA aRAB BIKIN cERDAS

MAU CERDAS? BELAJAR BAHASA ARAB DONG...!!!

Salah satu keutamaan belajar bahasa arab adalah akan bertambahnya kecerdasaan seseorang, ia akan lebih peka terhadap suatu hal dan pikirannya menjadi terbuka dan tidak terpaku pada sesuatu, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu,

تَعَلَّّمُوْا العَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا تُثَبِّتُ العَقْلَ ، وَتَزِيْدُ فِي المُرُوْءَةِ

“Pelajarilah bahasa arab, karena ia dapat menguatkan akal dan menambah kewibawaan (Imam Baihaqi dalam Syu’aibul Imaan, Maktabah Syamilah).

Lalu apa sebenarnya yang membuat bahasa arab dapat menambah kecerdasan?

Hal ini karena, ketika kita mempelajari bahasa arab ataupun membaca tulisan berbahasa arab, otak kita akan memproses apa yang kita baca dan lihat, ketika dia tidak memahami bahasa arab, maka hal itu tidak ada gunanya, akan tetapi ketika dia sudah memahami bahasa arab, dia akan lebih fokus berfikir.

Kenapa?? Hal ini karena Bahasa arab berbeda dengan bahasa Indonesia, susunan dalam bahasa Indonesia adalah baku hanya mempunyai satu makna dan mudah dipahami, sedangkan susunan bahasa arab berbeda-beda serta dapat mempunyai banyak makna, sehingga terkadang kita sulit untuk memahami apa maksud dari kalimat tersebut.

Selain itu, ketika kita membaca kitab berbahasa arab (kitab gundul), kita dituntut untuk menganalisis tiap kata yang ada, kedudukannya, fungsinya, harokatnya, karena ketika salah menganalisis, menjadikan arti yang didapat menjadi salah, yang akhirnya pemahaman kita menjadi salah pula.

Coba perhatikan contoh berikut:

أعطى محمد كتابا

Dari kalimat di atas, kita harus menganalisis, harokat apakah yang cocok untuk kalimat tersebut dan makna seperti apakah yang diinginkan. Sehingga ketika kita ingin mengatakan

أَعْطَى مُحَمَّدٌ كِتَابًا (Muhammad memberi kitab )

Kita harus menganalisisi, bahwa dari pengucapan di atas, mengindikasikan bahwa, مُحَمَّدٌ berkedudukan sebagai Fa’il (subjek), sedangkan كِتَابًا sebagai objek, karena أَعْطَى diposisikan sebagai fi’il ma’lum.

Namun, benarkah pengucapan seperti itu??

Jika kita menganalisis dengan teliti, maka kita akan tahu bahwa, kata kerja أَعْطَى (memberi) harus mempunyai dua objek (dari artinya sudah jelas membutuhkan dua objek), sedangkan kalimat di atas hanya mempunyai satu objek, jika أَعْطَى diposisikan sebagai fi’il ma’lum, maka kalimat tersebut tidak mempunyai arti yang dimaksudkan, kepada siapa Muhammad memberi kitab?? Arti menjadi rancu, sehingga pengucapan di atas kurang tepat.

Lalu bagaimana pengucapan yang benar??

Jawabnya adalah sebagai berikut:

(Muhammad telah diberi kitab) أُعْطِيَ مُحَمَّدٌ كِتَابًا

Kata kerja أعطى harus diposisikan sebagai fi’il majhul, karena ia harus mempunyai dua objek jika diposisikan sebagai fi’il ma’lum, sedangkan kata مُحَمَّدٌ berkedudukan sebagai na’ibul fa’il (pengganti fa’il) dan كِتَابًا sebagai objek, sehingga arti dari kalimat di atas, “Muhammad diberi kitab”, dan ini yang benar. Mungkin anda akan bertanya, “kan kalimat di atas masih rancu, siapa yang memberi muhammad kitab??” Jawabnya, di dalam bahasa arab, ketika fi’il ma’lum diubah menjadi majhul, mengindikasikan ada fa’il yang dihapus dan digantikan dengan objeknya (coba liat kembali pembahasan na’ibul fa’il), sehingga, ketika seseorang mengucapkan hal di atas, orang yang diajak berbicara pasti akan mengetahui maksud perkataannya.

Lebih mudahnya perhatikan kalimat berikut, jika dikatakan:

أَعْطَى مُحَمَّدٌ وَحْيًا (Muhammad memberi wahyu)

Maka ini adalah pengucapan yang salah, namun jika di ucapkan

أُعْطِىَ مُحَمَّدٌ وَحْيًا (Muhammad telah diberi wahyu)

Maka ini adalah pengucapan yang benar, walaupun fa’ilnya tidak disebutkan, kita dapat mengetahui maksud dari pengucap adalah “Muhammad telah diberi wahyu oleh Allah”. Dan ingat, fa’il dan nai’bul fa’il tidak bias digandengkan dalam satu kalimat.

Begitu pula dalam contoh kalimat,

الْيَوْمُ يَوْمُ الأَحَدِ (Hari ini adalah hari Ahad)

Kita harus menganalisis, apa kedudukan dari tiap kata tersebut, sehingga pemaknaan dan maksud yang diinginkan tersampaikan (coba bagi para pembaca untuk menentukan kedudukan serta arti dari kalimat di atas).

Dengan hal inilah mengapa mempelajari bahasa arab dapat meningkatkan kecerdasan. Materi-materi yang sudah diberikan harus bisa dipahami dan dipraktekkan. Sehingga wajar saja bila para ulama kita, ketika memberi fatwa, mereka bisa memberikan jawaban yang tepat dan mencakup banyak hal.

Dan perlu diketahui, bahasa arab dapat dijadikan ajang teka-teki bagi para santri untuk mengasah kemampuan dia dalam berbahasa arab dan tentunya dalam berpikir.

Semoga bermanfaat..

Sejarah Asal Mula Ilmu Nahwu

Ada Apa dengan Nahwu?

Seperti halnya bahasa-bahasa yang lain, Bahasa Arab mempunyai kaidah-kaidah tersendiri di dalam mengungkapkan atau menuliskan sesuatu hal, baik berupa komunikasi atau informasi. Lalu, bagaimana sebenarnya awal mula terbentuknya kaidah-kaidah ini, dan kenapa dikatakan dengan istilah nahwu? simak artikel berikut.

Pada jaman Jahiliyyah, kebiasaan orang-orang Arab ketika mereka berucap atau berkomunikasi dengan orang lain, mereka melakukannya dengan tabiat masing-masing, dan lafazh-lafazh yang muncul, terbentuk dengan peraturan yang telah ditetapkan mereka, di mana para junior belajar kepada senior, para anak belajar bahasa dari orang tuanya dan seterusnya. Namun ketika islam datang dan menyebar ke negeri Persia dan Romawi, terjadinya pernikahan orang Arab dengan orang non Arab, serta terjadi perdagangan dan pendidikan, menjadikan Bahasa Arab bercampur baur dengan bahasa non Arab. Orang yang fasih bahasanya menjadi jelek dan banyak terjadi salah ucap, sehingga keindahan Bahasa Arab menjadi hilang.

Dari kondisi inilah mendorong adanya pembuatan kaidah-kaidah yang disimpulkan dari ucapan orang Arab yang fasih yang bisa dijadikan rujukan dalam mengharakati bahasa Arab, sehingga muncullah ilmu pertama yang dibuat untuk menyelamatkan Bahasa Arab dari kerusakan, yang disebut dengan ilmu Nahwu. Adapun orang yang pertama kali menyusun kaidah Bahasa Arab adalah Abul Aswad Ad-Duali dari Bani Kinaanah atas dasar perintah Khalifah Ali Bin Abi Thalib.

Terdapat suatu kisah yang dinukil dari Abul Aswad Ad-Duali, bahwasanya ketika ia sedang berjalan-jalan dengan anak perempuannya pada malam hari, sang anak mendongakkan wajahnya ke langit dan memikirkan tentang indahnya serta bagusnya bintang-bintang. Kemudian ia berkata,

مَا أَحْسَنُ السَّمَاءِ

“Apakah yang paling indah di langit?”

Dengan mengkasrah hamzah, yang menunjukkan kalimat tanya. Kemudian sang ayah mengatakan,

نُجُوْمُهَا يَا بُنَيَّةُ

“Wahai anakku, Bintang-bintangnya”

Namun sang anak menyanggah dengan mengatakan,

اِنَّمَا اَرَدْتُ التَّعَجُّبَ

“Sesungguhnya aku ingin mengungkapkan kekaguman”

Maka sang ayah mengatakan, kalau begitu ucapkanlah,

مَا اَحْسَنَ السَّمَاءَ

“Betapa indahnya langit.”

Bukan,

مَا اَحْسَنُ السَّمَاءِ

“Apakah yang paling indah di langit?”

Dengan memfathahkan hamzah…

****

Dikisahkan pula dari Abul Aswad Ad-Duali, ketika ia melewati seseorang yang sedang membaca al-Qur’an, ia mendengar sang qari membaca surat At-Taubah ayat 3 dengan ucapan,

أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهُ

Dengan mengkasrahkan huruf lam pada kata rasuulihi yang seharusnya di dhommah. Menjadikan artinya “…Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya..” hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rusak dan menyesatkan.

Seharusnya kalimat tersebut adalah,

أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُوْلُهُ

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.”

Karena mendengar perkataan ini, Abul Aswad Ad-Duali menjadi ketakutan, ia takut keindahan Bahasa Arab menjadi rusak dan gagahnya Bahasa Arab ini menjadi hilang, padahal hal tersebut terjadi di awal mula daulah islam. Kemudian hal ini disadari oleh khalifah Ali Bin Abi Thalib, sehingga ia memperbaiki keadaan ini dengan membuat pembagian kata, bab inna dan saudaranya, bentuk idhofah (penyandaran), kalimat ta’ajjub (kekaguman), kata tanya dan selainnya, kemudian Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Abul Aswad Adduali,

اُنْحُ هَذَا النَّحْوَ

“Ikutilah jalan ini”

Dari kalimat inilah, ilmu kaidah Bahasa Arab disebut dengan ilmu nahwu. (Arti nahwu secara bahasa adalah arah )

Kemudian Abul Aswad Ad-Duali melaksanakan tugasnya dan menambahi kaidah tersebut dengan bab-bab lainnya sampai terkumpul bab-bab yang mencukupi.

Kemudian, dari Abul Aswad Ad-Duali inilah muncul ulama-ulama Bahasa Arab lainnya, seperti Abu Amru bin ‘alaai, kemudian al Kholil al Farahidi al Bashri ( peletak ilmu arudh dan penulis mu’jam pertama) , sampai ke Sibawai dan Kisai (pakar ilmu nahwu, dan menjadi rujukan dalam kaidah Bahasa Arab).

Seiring dengan berjalannya waktu, kaidah Bahasa Arab berpecah belah menjadi dua mazhab, yakni mazhab Basrah dan Kuufi (padahal kedua-duanya bukan termasuk daerah Jazirah Arab). Kedua mazhab ini tidak henti-hentinya tersebar sampai akhirnya mereka membaguskan pembukuan ilmu nahwu sampai kepada kita sekarang.

Demikianlah sejarah awal terbentuknya ilmu nahwu, di mana kata nahwu ternyata berasal dari ucapan Khalifah Ali bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Referensi:
Al-Qowaaidul Asaasiyyah Lil Lughotil Arobiyyah

KATA BENDA

KATA BENDA DALAM BAHASA ARAB

Kata benda (nominal) adalah kata atau frase yang menunjukan kepada jenis atau nama benda, baik yang bernyawa seperti orang, binatang, dan tumbuhan, maupun benda yang tidak bernyawa seperti benda, tempat, dll.
Contoh :
محمد = Muhammad, علي = Ali
قط = kucing, كلب = anjing
مكة = Mekah, عرب = Arab
ثقافة = kebudayaan
استثمار = Investasi
السيوعية = Komunisme
رجل = laki-laki, امراءة = perempuan
الحق = kebenaran,
كتابة = tulisan, قراءة = bacaan
dan lain-lain.

Seperti yang telah kita pelajari dalam pelajaran 1 tentang kata, dalam proses menerjemahkan, kita akan menemukan kata yang mempunyai arti kamus dan kata yang tidak mempunyai arti kamus.

Kata benda yang mempunyai arti kamus di atas misalnya kata كلب , ثقافة , dll, dimana kita harus minimal membuka kamus untuk mengetahui arti atau maknanya.

Sebaliknya bagi kata benda seperti محمد , علي , atau مكة , kita tidak perlu membuka kamus untuk mengetahui artinya. Kita hanya cukup memindahkan huruf dan bunyinya dalam tulisan latin. Misalnya kata علي , cukup kita terjemahkan dengan kata ‘Ali’ saja.

Bagaimana dengan kata القاهرة atau الإسكندرية. Maka ini merupakan pengecualian. Dimana kata القاهرة atau الإسكندرية tidak langsung diterjemahkan dengan al-qohiroh dan al-iskandariyah, tetapi harus diterjemahkan dengan Kairo (Cairo) dan Alexandria.

Dengan banyak berlatih, insya Allah kita bisa menerjemahkan kata-kata benda di atas dengan baik.
(Kholis)
KALIMAT PASIF (mabni majhul)
Bisimillahirrahmanirrahim.

Ambil contoh: Saya membaca buku.

Kita sudah paham, bahwa Subject, adalah saya, dan object adalah buku.

Kalau dalam bahasa Inggris juga begitu: I read a book.

Kalau dijadikan kalimat pasif, kita juga mengerti, kalimat itu menjadi:
Buku dibaca oleh saya.
A book was read by me.

Tapi dalam bahasa Arab, Subject dalam kalimat pasif tidak boleh muncul. (pakai bahasa gaul sekarang) Dilarang muncul boo'!

Sehingga kalimat diatas, hanya bisa di-Arab-kan sbb:
Buku dibaca.

Sudah. Gitu aja.

Kok bisa?

Ya begitu peraturannya.

Dalam bahasa Arab, sebuah kalimat, jika hendak memunculkan Subject, hendaklah dibuat dalam kalimat aktif.

Subject dalam kalimat pasif, mesti dihilangkan. Kata orang arab, subjectnya: Majhul. Majhul artinya: tidak diketahui.

Jadi kalau kita buat contoh diatas:

انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.

Jika dibuat pasif:

قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca

Perhatikan hal-hal berikut:
1. Saya sebagai subject hilang (tidak ada dalam bahasa Arab: buku dibaca oleh saya).
2. Kata kerja yang dalam kalimat aktif: qora'tu (ada tu = saya), maka dalam kalimat pasif akhiran tu tersebut hilang.
3. Kata kerja dalam kalimat pasif, mengikuti dhomir dari naibul fa'il. Karena naibul fa'il adalah al-kitaab (huwa), maka kata kerjanya kembali ke KKA (Kata Kerja Asal), yaitu qora-a.
4. Cara membuat pasif qo-ra-a, adalah dengan men-dhommah kan kata pertama, dan meng-kasrah-kan kata sebelum akhir. Sehingga aktif: qo-ra-a, pasif: qu-ri-a.
5. I'rob (harokat akhir) dari al-kitaab, adalah dhommah, sehingga dibaca: quri-a alkitaabu

Banyak yang musti diperhatikan.

Ada yang kadang sering terlewatkan. Apa itu?

Perhatikan, bahwa dalam pelajaran tata bahasa Arab, biasanya pertama yang dikenalkan adalah maf'ul (object) harus fathah.

انا قرأتُ الكتابَ - ana qora'tu alkitaaba : saya membaca buku.

Perhatikan, al-kitaab dalam posisi kalimat diatas adalah object. Maka dia fathah, sehingga dibaca al-kitaa-ba.

Nah kadang dalam kalimat pasif seorang pemula akan membuat kalimat sbb:

قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaaba : mereka membaca al-kitaaba.

Kalau ditanya ke pemula tsb: kok dibaca al-kitaaba? Mereka akan jawab, lha kan posisi al-kitaab dalam kalimat tersebut tetap Object (maf'ul). Nah kalau maf'ul kan dibaca fathah.

Nah disini kita harus hati-hati. Walaupun suatu kata benda, berfungsi sebagai Object, tapi lihat dulu, apakah dia ada dalam kalimat pasif. Kalau dalam kalimat pasif, maka Object tsb, berubah menjadi Naibul Fa'il, yang ber-'irob Dhommah.

Sehingga yang benar itu, membacanya:

قُرئ الكتابُ - quri-a al-kitaabu : buku dibaca

Sekarang kita hendak lihat, salah satu contoh dalam Al-Quran surat 84 ayat 21:

وإذا قرئ عليهم القراّنُ لا يسجدون - dan jika dibacakan Al-Quran kepada mereka, mereka tidak sujud.

Lihat disitu, bahwa yang menjadi naibul fa'il adalah Al-Quran, dan i'rob nya adalah dhommah. Sehingga dibaca:

wa idza quri-a alayhim al-quraanu (bukan al-quraana) laa yasjuduun.

Topik selanjutnya akan kita bahas Rumus mudah mengubah kata kerja dari aktif ke pasif. Insya Allah.

Apa itu Tashrif (Sharaf)

TASHRIF
Bismillahirrahmanirrahim.

Istilah Nahwu Shorof sering diidentikkan dengan tata bahasa arab. Dunia seputar bahasa arab, sekurangnya meliputi tiga hal: nahwu, shorof, dan balaghoh. Nahwu membicarakan mengenai hukum-hukum huruf, kata, dan kalimat, dan bagaimana bunyi akhir dari sebuah kata. Sedangkan shorof membicarakan bagaimana perubahan bentuk suatu kata kerja dari bentuk past, present, dan perintah, dan perubahan bentuk kata kerja ke kata benda turunan, dan juga perubahan bentuk kata kerja sesuai pelaku dari perbuatan tsb. Sedangkan balaghoh membicarakan tentang keindakan suatu bahasa, atau lebih memperhatikan aspek sastra dari bahasa tsb.

Inti sari nahwu adalah i'rob. Sedangkan intisari shorof adalah tashrif.

I'rob إعرب berasal dari 'arab عرب, sering disebut dengan "arabization" atau "peng-arab-an". Mengapa disebut "peng-arab-an"? Karena bahasa arab sangat kaya dengan perubahan bunyi akhir dari sebuah kata. Ambil contoh.

أذهب إلى المسجد - adzhabu ilal masjidi : saya sedang pergi ke masjid

Kata "masjid" disini dibaca "masjidi". Kenapa bukan "masjidu", atau "masjida", atau "masjidun" atau bukan "masjidan", ataupun "masjidin"? Karena begitulah aturan nahwu-nya.

Kalau kata masjid itu digunakan dalam kedudukan lain:

المسجد كبير - al-masjidu kabiirun

Disini "masjid" dibaca, "masjidu". Tidak "masjidi", atau yang lainnya. Kenapa bisa begitu? Ya karena begitulah peraturan nahwu arabic fusha (tata bahasa Al-Quran).

Terlihat bahwa, yang jadi fokus adalah cara membaca dari akhir kata, apakah berakhiran, "u" -- seperti "masjidu", atau "i" -- seperti "masjidi". Ini lah yang kita sebut dengan i'rob (arabization).

Shorof

Mengetahui i'rob belum cukup. Kita harus mengetahui shorof. Shorof ini menjelaskan perubahan bentuk kata kerja.

Seperti:

أذهب إلى المسجد - adzhabu ilal masjidi : saya sedang pergi ke masjid

Disini digunakan kata أذهب - adzhabu untuk menekankan bahwa pekerjaan "pergi" itu belum selesai.

Jika sudah selesai, maka kata kerja adzhabu berubah jadi dzahabtu.

ذهبت إلى المسجد - dzhabtu ilal masjidi : saya sudah pergi ke masjid

Ada lagi perubahan dari kata kerja ke kata benda. Contoh:

ذهب - dzahaba : pergi --> kata kerja
ذاهب - dzaahibun : orang yang pergi --> kata benda

Nah perubahan dari bentuk adzhabu ke dzahabtu inilah yang dibahas oleh Shorof. Demikian juga perubahan dari kata kerja ke kata benda ini juga dibahas dalam Shorof.

Dua hal ini (perubahan kata kerja past ke present, dan, perubahan kata kerja ke kata benda) disebut dengan Tashrif Ishtilahi.

Shorof, juga membahas perubahan bentuk kata kerja jika pelakunya berubah. Seperti dalam contoh sebelumnya, untuk pelaku "kami".

ذهبنا إلى المسجد - dzhabnaa ilal masjidi : Kami sudah pergi ke masjid

Perubahan yang seperti ini disebut Tashrif Lughowi (perubahan kata kerja karena berubahnya pelaku).

Demikian sepintas tentang pembahasan, apa itu tashrif.

Wallahu a'lam.