Tampilkan postingan dengan label LDK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LDK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2009

Lembaga Dakwah Kampus di universitas lain bisa dijadikan teladan.....


FSMI Walisongo siap ikuti jejak UKKI Unnes

Pada tahun 2005 sampai 2007 kemarin, UKKI Unnes telah dipilih sebagai koordinator Forum Silaturrohim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Pusat Komunikasi Daerah (PUSKOMDA) Semarang, dan pada tahun 2008 ini UKKI Unnes kembali terpilih menjadi koordinator FSLDK PUSKOMDA Semarang sebagaimana yang telah diputuskan dalam Musyawarah Daerah (Musda) pada 2 desember 2007 kemarin yang diadakan di kampus Polines Tembalang. Semoga Allah memberikan kekuatan pada UKKI Unnes untuk dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.

FSLDK PUSKOMDA Semarang ini membawahi kurang lebih 41 Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang tersebar di seluruh Semarang Raya yang meliputi daerah Semarang, Salatiga, Kendal, Jepara, dan Kudus.

Visi dari FSLDK PUSKOMDA Semarang yaitu “Menjadi sarana komunikasi dan koordinasi LDK Se-Semarang dengan berusaha menumbuhkan serta mengembangkan LDK-LDK yang ada di Kampus, sehingga tercipta LDK yang kokoh, tangguh, dan profesional dalam merencanakan, mengelola, dan memecahkan semua permasalahan da’wah baik ditingkatan kampus ataupun daerah”. Sedangkan misinya yaitu “Membangun silaturrahim antar LDK, sebagai pusat informasi tentang alternatif permasalahan LDK khususnya dan masyarakat pada umumnya, sebagai sarana dalam usaha pendampingan dan pembinaan LDK, mengupayakan adanya Islamisasi terhadap berbagai aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh civitas akademika dan masyarakat umum, serta sebagai sarana peningkatan profesionalisme dalam pengelolaan LDK.”

Lembaga yang diketuai oleh Harjoko (Kimia ’04 Unnes) ini mempunyai 3 bidang yaitu PPLDK (Pembinaan dan Pengembangan LDK), Isu Nasional (Isunas), dan Jaringan Muslimah (Jarmus). Ketiga bidang ini mempunyai tugas masing-masing. PPLDK menjadi pusat data dan analisa perkembangan LDK, membangun silaturrahim antar LDK, menjadi sarana pendamping dan pembinaan LDK, serta menjadi sarana koordinasi pembangunan dan penataan da’wah LDK di Semarang Raya. Untuk bidang Isunas bertugas menjadi sarana menyuarakan sikap terhadap berbagai isu keislaman yang berkembang baik ditingkat daerah, nasional maupun internasional serta menjadi sarana dan penataan gerak da’wah dalam menyikapi isu keislaman yang berkembang. Sedangkan Jarmus bertugas Menjadi sarana silaturohim & informasi antar kader da’wah muslimah diseluruh Universitas dan Sekolah Tinggi di Semarang raya dlm penataan da’wah dikalangan muslimah serta menjadi sarana untuk menyuarakan sikap terhadap berbagai isu kemuslimahan baik nasional maupun internasional.

Agenda utama dan pertama dari FSLDK PUSKOMDA adalah pendampingan LDK. Setiap LDK mempunyai hak untuk di dampingi oleh PUSKOMDA yang telah diamanahkan di wilayahnya, sehingga LDK yang didampingi dapat lebih baik, meningkat kualitasnya, dan semakin banyak kuantitasnya.

FSLDK PUSKOMDA Semarang telah melaksanakan Rapat Kerja (Raker) pengurus Puskomda pada hari Sabtu tanggal 9 Februari 2008 dan bertempat di gedung PKMU Unnes. Dari rapat tesebut telah dihasilkan beberapa program kerja dari masing bidang dan semoga eksistensi FSLDK PUSKOMDA Semarang akan lebih terasa bagi seluruh elemen LDK yang berada di Semarang Raya. Bagi teman-teman LDK yang ingin berkunjung ke PUSKOMDA Semarang Raya, silakan datang ke sekretariat UKKI Unnes di Masjid Ulul Albab Unnes lantai I.

Minggu, 28 Juni 2009

FSMI akan menjadi UKM IAIN Walisongo


FSMI WALISONGO Layak Menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) IAIN Walisongo
FSMI Walisongo (Forum Silaturrahim Mahasiswa IAIN Walisongo) adalah bagian dari organisasi dakwah kampus yang tumbuh berkembang di IAIN Walisongo Semarang sejak tahun 2007. Organisasi ini masih bersifat ekstra kampus dan sampai sekarang sudah mendapat banyak dukungan dari para dosen dan mahasiswa agar segera dijadikan lembaga intra kampus di bawah Dewan Mahasiswa IAIN Walisongo.
Semangat dan kemauan yang kuat dari para mahasiswa IAIN Walisongo untuk ber_islam secara sungguh-sungguh semakin terlihat setelah dibangunnya masjid kampus II di Perguruan Tinggi ini. Mahasiswa dan para dosen semakin terlihat rajin shalat berjama'ah bersama. Tidak itu saja, kajian-kajian yang dilakukan oleh FSMI di kampus ini pun tak pernah sepi dari kehadiran para mahasiswa.
Dakwah Kampus merupakan salah satu bagian dari dakwah secara umum. Dakwah kampus mengkhususkan dirinya untuk bergerak dalam sebuah miniatur masyarakat kecil yang bernama masyarakat kampus. Oleh karena itu dalam menjalankan roda dakwahnya, Dakwah Kampus memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan dakwah di wilayah lain. Dengan kata lain, pola Dakwah Kampus tentu akan berbeda dengan pola di Dakwah Remaja Masjid, atau pada Dakwah di Perkantoran, dan sebagainya. Oleh karena itu, sebelum kita lebih jauh membicarakan mengenai bagaimana rincian pola dan strategi dakwah kampus, maka perlu kita pahami dahulu apa definisi dasar dari Dakwah Kampus.

Dakwah Kampus adalah dakwah ammah harokatudz dzahiroh dalam lingkup perguruan tinggi. Dakwah yang sifatnya terbuka, berorientasi kepada rekrutmen dakwah di kalangan civitas akademika secara umum, dan aktivitasnya dapat dirasakan oleh civitas akademika. Civitas akademika yang dimaksud di sini adalah para mahasiswa dan dosen perguruan tinggi. Civitas akademika merupakan bagian dari masyarakat kampus yang hidup dengan peraturan, ada peraturan kampus (rektorat), peraturan BEM dan sebagainya. Sehingga untuk dapat mengejewantahkan dakwah ammah harokatudz dzahirah tersebut, maka prinsip 'legal', 'formal', dan 'wajar' dalam kacamata civitas akademika, menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh Dakwah Kampus.

Follow up:

Untuk menjalankan roda Dakwah Kampus, maka dibutuhkan personil-personil, yaitu Aktivis Dakwah Kampus (ADK). ADK adalah kader dakwah dan tarbiyah yang memiliki peran dalam Dakwah Kampus. Peran yang dilakukan bisa berupa sebagai pengurus lembaga dakwah kampus, murobbi kampus, dan sebagainya. Peran ADK ini bisa dijalankan oleh kader dakwah yang bertitel mahasiswa, atau dosen, atau kader dakwah lainnya yang bersinggungan dengan Dakwah Kampus. Mereka harus dapat bergerak bersama-sama dalam koridor strategi dakwah kampus yang bersangkutan.

Sebagaimana telah diungkapkan di atas, dalam pergerakannya dakwah kampus memiliki medan tersendiri. Medan pergerakan dakwah kampus adalah area di mana dakwah kampus mengaktualisasikan diri. Medan Dakwah Kampus yaitu lingkungan internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap dakwah kampus, meliputi manusia-manusianya (para civitas akademika, pejabat dan pegawai kampus, alumni), sarana-sarananya (lembaga kemahasiswaan, institusi perguruan tinggi, institusi pemerintah terkait, institusi kerjasama antar perguruan tinggi), dan aturan main yang berlaku (peraturan perundangan terkait, kurikulum dan sistem administrasi perguruan tingggi), serta sarana dan prasarana kampus.

Dan yang terakhir dalam kajian ini adalah tujuan Dakwah Kampus, terakhir dan sangat penting. Karena tujuan dakwah kampus harus selalu menjadi satu hal yang terus diingat oleh para ADK, agar mereka tahu ke mana arah dakwah kampus berjalan. Tujuan utama dari Dakwah kampus adalah adanya suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam, dan optimalisasi peran kampus dalam upaya mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Islami. Derivasi dari hal ini maka peran tarbiyah kampus yang berkesinambungan - untuk menghasilkan alumni-alumni yang berafiliasi kepada Islam - menjadi sangat penting. Derivasi lainnya, lembaga dakwah kampus perlu secara bertahap menjadi lembaga dakwah kampus yang matang, agar dapat memainkan perannya di perguruan tinggi yang bersangkutan untuk dapat mengusung perubahan. Mengenai tahapan dakwah kampus ini perlu kajian tersendiri.

Untuk mencapai tujuan di atas, ada beberapa sasaran antara yang harus dicapai terlebih dahulu. Sasaran tersebut antara lain :

1. Terbentuknya bi'ah (lingkungan) yang kondusif bagi kehidupan Islami di kampus, baik dalam sisi moral, intelektual, maupun tanggungjawab sosial. Kita tahu bahwa kampus adalah lingkungan yang heterogen. Ketika berinteraksi di dalamnya, maka butuh kekuatan untuk menjaga idealisme dengan tetap memperhatikan realitas. Hal ini berarti dakwah kampus memerlukan sebuah lingkungan kecil yang senantiasa dapat terus men-charge ruhiyah para ADK di tengah-tengah aktivitasnya di kampus. Sarana untuk itu adalah tarbiyah yang berkesinambungan untuk para ADK dan yang didakwahkannya.

2. Terbentuknya opini ketinggian Islam di kalangan kampus. Oleh karena itu syiar dalam mengkampanyekan kemuliaan Islam harus terus dilakukan secara rutin. Sarana-sarana syiar untuk ini cukup banyak, misalnya majalah, perpustakaan, peringatan hari besar Islam, tabligh akbar, dan sebagainya. Barangkali bisa kita diskusikan mengenai hal ini dalam kajian tersendiri.

3. Terbentuknya kesinambungan barisan pendukung dakwah. Untuk itu, tarbiyah yang berkesinambungan di setiap angkatan mahasiswa harus dipastikan berjalan. Ini membutuhkan sebuah lajnah yang dapat mengawasi itu dalam jangka panjang.

4. Terbentuknya hubungan timbal balik yang sinergis antara dakwah ammah dengan pengkaderan. Artinya, semua rekrutmen-rekrutmen dakwah diupayakan dapat dilanjutkan dengan proses dakwah secara khusus terhadap orang-orang yang direkrut tersebut.

Demikian kajian singkat mengenai definisi dasar dan tujuan dakwah kampus, terutama percepatan dakwah kampus di IAIN Walisongo yang nota bene para mahasiswanya banyak berasal dari pesantren. Semoga dapat menjaga orisinalitas dakwah kampus di tengah-tengah proses perubahan yang semakin cepat.
(Kholis)